Kematian yang Selalu Ada

Kematian telah menjadi aktivitas yang selalu dirasakan semua orang yang terlahir di dunia. Kematian memberikan luka dan suka cita bagi berbagai sisi kehidupan. Kematian dapat menjadi akhir maupun awal dari sebuah kehidupan. Bukankah tujuan hidup manusia telah ditakdirkan untuk mati? Bukankah setiap tujuan dari ego yang kita punya hanyalah bagian dari kematian itu sendiri? Tapi kenapa tidak ada yang dengan lantang berkata bahwa tujuan saya hidup adalah mati?

Manusia sebagai Makhluk yang Sendiri

Dunia begitu berat untuk dijelaskan, dan manusia terlalu bodoh untuk mengungkapkan. Manusia bukanlah makhluk sosial yang selama ini dibicarakan. Manusia mengambil bagian sosial demi kebutuhan individunya. Sejak awal manusia dapat berfikir, menandai awal manusia sebagai makhluk yang sendiri.

Antara Harapan dan Penolakan

Manusia mengharapkan sesuatu yang lebih besar — apa pun namanya, baik tuhan maupun pengetahuan. Selama ada harapan, keinginan, dan nafsu, maka manusia pada dasarnya adalah hidup. Tujuan hidup manusia berada pada kondisi menolak kematian. Segala harapan dan keinginan tersebut ingin diwujudkan sebelum manusia itu mati.

Ketika Kematian Menjadi Jawaban

Di lain sisi, terdapat manusia yang mengharapkan kematian. Bagi mereka, kematian merupakan jawaban atas kondisi yang sedang dialami. Kematian adalah harapan yang diharapkan untuk memenuhi nafsu dan hasrat manusia yang menginginkannya. Mulut sudah tidak dapat berbicara karena pikiran yang sudah kehilangan arah.

Tidak ada jawaban yang tersedia, sehingga tidak ada jawaban adalah jawabannya.

Mata yang Tertutup, Mata yang Terbuka

Jika kamu dapat menutup matamu, dan bertanya untuk apa kehidupan ini, untuk apa ketidakadilan ini, dan untuk apa pengorbanan ini — untuk sesaat kematian tidak terasa begitu gelap, dan neraka juga tidak begitu panas. Tapi ketika mata kembali terbuka, seketika kita merasakan kembali kesakitan, ketakutan, dan kecemasan. Semua terasa begitu buruk, bahkan dalam kenyamanan saat ini.

Pertanyaan yang Tak Terjawab

Lalu apa yang dapat dilakukan? Apa tujuannya? Haruskah seseorang punya tujuan untuk mati — atau mengembalikan hasrat untuk mendapatkan kenyamanan, mendapatkan kenikmatan, menguasai peradaban, yang akhirnya memberikan keburukan terhadap manusia lain yang tak terlintas?